Teori Corespondence
Masalah kebenaran menurut teori ini hanyalah perbandingan antara
realita obyek (informasi, fakta, peristiwa, pendapat) dengan apa yang ditangkap
oleh subjek (ide, kesan). Jika ide atau kesan yang dihayati subjek (pribadi)
sesuai dengan kenyataan, realita, objek, maka sesuatu itu benar.
Teori korespodensi (corespondence theory of truth) menerangkan
bahwa kebenaran atau sesuatu kedaan benar itu terbukti benar bila ada
kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan
objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut.
Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta, yang
berselarasan dengan realitas yang serasi dengan situasi aktual. Dengan demikian
ada lima unsur yang perlu yaitu Statement (pernyataan), Persesuaian
(agreemant), Situasi (situation),Kenyataan (realitas), Putusan (judgements)
Kebenaran adalah fidelity to objektive reality (kesesuaian pikiran
dengan kenyataan). Teori ini dianut oleh aliran realis. Pelopornya plato,
aristoteles dan moore dikembangkan lebih lanjut oleh Ibnu Sina, Thomas Aquinas
di abad skolatik, serta oleh Bernard Russel pada abad moderen. Cara berfikir
ilmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespodensi ini. Teori
kebenaran menurut corespondensi ini sudah ada di dalam masyarakat sehingga
pendidikan moral bagi anak-anak ialah pemahaman atas pengertian-pengertian
moral yang telah merupakan kebenaran itu. Apa yang diajarkan oleh nilai-nilai
moral ini harus diartikan sebagai dasar bagi tindakan-tindakan anak di dalam
tingkah lakunya. Artinya anak harus mewujudkan di dalam kenyataan hidup, sesuai
dengan nilai-nilai moral itu. Bahkan anak harus mampu mengerti hubungan antara
peristiwa-peristiwa di dalam kenyataan dengan nilai-nilai moral itu dan menilai
adakah kesesuaian atau tidak sehingga kebenaran berwujud sebagai nilai standar
atau asas normatif bagi tingkah laku. Apa yang ada di dalam subyek (ide, kesan)
termasuk tingkah laku, harus dicocokkan dengan apa yang ada di luar subyek
(realita, obyek, nilai-nilai) bila sesuai maka itu benar.
Misalnya : Pengetahuan air akan menguap jika dipanasi sampai dengan
100 derajat. Pengetahuan tersebut dinyatakan benar kalau kemudian dicoba
memanasi air dan diukur sampai seratus derajat, apakah air menguap ! Jika
terbukti tidak menguap maka pengetahuan tersebut dinyatakan salah, dan jika
terbukti air menguap, maka pengetahuan tersebut dinyatakan benar.
Teori Consistency
Teori ini merupakan suatu usaha pengujian (test) atas arti
kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap relible jika kesan-kesan yang
berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test
eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain.
Menurut teori consistency untuk menetapkan suatu kebenaran bukanlah
didasarkan atas hubungan subyek dengan realitas obyek. Sebab apabila didasarkan
atas hubungan subyek (ide, kesannya dan comprehensionnya) dengan obyek,
pastilah ada subyektivitasnya. Oleh karena itu pemahaman subyek yang satu
tentang sesuatu realitas akan mungkin sekali berbeda dengan apa yang ada di
dalam pemahaman subyek lain. Teori ini dipandang sebagai teori ilmiah yaitu
sebagai usaha yang sering dilakukan di dalam penelitian pendidikan khsusunya di
dalam bidang pengukuran pendidikan.
Teori konsisten ini tidaklah bertentangan dengan teori
korespondensi. Kedua teori ini lebih bersifat melengkapi. Teori konsistensi
adalah pendalaman dan kelanjutan yang teliti dari teori korespondensi. Teori
korespondensi merupakan pernyataan dari arti kebenaran. Sedah teori konsistensi
merupakan usaha pengujian (test) atas arti kebenaran tadi.
Teori koherensi (the coherence theory of trut) menganggap suatu
pernyataan benar bila di dalamnya tidak ada pertentangan, bersifat koheren dan
konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar. Dengan
demikian suatu pernyataan dianggap benar, jika pernyataan itu dilaksanakan atas
pertimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah diterima
kebenarannya. Rumusan kebenaran adalah truth is a sistematis coherence dan
truth is consistency. Jika A = B dan B = C maka A = C
Logika matematik yang deduktif memakai teori kebenaran koherensi
ini. Logika ini menjelaskan bahwa kesimpulan akan benar, jika premis-premis
yang digunakan juga benar. Teori ini digunakan oleh aliran metafisikus rasional
dan idealis.
Teori ini sudah ada sejak Pra Socrates, kemudian dikembangan oleh
Benedictus Spinoza dan George Hegel. Suatu teori dianggap benar apabila telah
dibuktikan (klasifikasi) benar dan tahan uji. Kalau teori ini bertentangan
dengan data terbaru yang benar atau dengan teori lama yang benar, maka teori
itu akan gugur atau batal dengan sendirinya.
Sebagai contoh, kita mempunyai pengetahuan bahwa runtuhnya kerajaan
Majapahit adalah tahun 1478. Dalam hal ini kita tidak dapat membuktikan secara
langsung dari isi pengetahuan itu, melainkan hanya dapat membuktikan melalui
hubungan dengan proposi yang terdahulu, baik dalam buku-buku sejarah atau peniggalan
sejarah yang mengungkapkan kejadian itu.
Contoh lain, bahwa kita tahu jika Indonesia itu pernah dijajah oleh
portugis kemudian Belanda lalu Jepang. Kita tidak dapat membuktikan kebenaran
itu secara langsung, sebab kejadian penjajahan itu sudah berlangsung puluhan
tahun lalu, sehingga kita hanya bisa membuktikannya hanya melalui peninggalan
bersejarah dan buku buku bersejarah yang mengungkapkan kejadian tersebut.
Teori Pragmatisme
Paragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal para pendidik
sebagai metode project atau metode problem solving di dalam pengajaran. Mereka
akan benar-benar, hanya jika mereka berguna mampu memecahkan problem yang ada.
Artinya sesuatu itu benar, jika mengembalikan pribadi manusia di dalam
keseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama
pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk ini
manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.
Dalam dunia pendidikan, suatu teori akan benar jika ia membuat segala sesutu
menjadi lebih jelas dan mampu mengembalikan kontinuitas pengajaran, jika tidak,
teori ini salah.
Jika teori itu praktis, mampu memecahkan problem secara tepat
barulah teori itu benar. Yang dapat secara efektif memecahkan masalah itulah
teori yang benar (kebenaran). Teori pragmatisme (the pragmatic theory of truth)
menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila
memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia.
Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan
(utility) dapat dikerjakan (workobility) dan akibat yang memuaskan (satisfaktor
consequence). Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutak/ tetap,
kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibatnya. Akibat / hasil yang memuaskan
bagi kaum pragmatis adalah :
a. Sesuai dengan keinginan dan tujuan
b. Sesuai dengan teruji dengan suatu eksperimen
c. Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada)
Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari pada filsuf
Amerika, tokohnya adalah Charles S. Pierce (1914-1939) dan diikuti oleh Wiliam
James dan John Dewey (1852-1859). Wiliam James misalnya menekankan bahwa suatu
ide itu benar terletak pada konsekuensi, pada hasil tindakan yang dilakukan.
Bagi Dewey konsekuensi tidaklah terletak di dalam ide itu sendiri, malainkan
dalam hubungan ide dengan konsekuensinya setelah dilakukan. Teory Dewey
bukanlah mengerti obyek secara langsung (teori korepondensi) atau cara tak
langsung melalui kesan-kesan dari pada realita (teori konsistensi). Melainkan
mengerti segala sesuatu melalui praktek di dalam program problem solving.
Misal pengetahuan ketika naik bis, lalu sebelum turun penumpang
bilang kepada kondektur “kiri”, kemudian bis berhenti diposisi kiri. Dengan
berhenti di posisi kiri, penumpang bisa turun dengan selamat. Jadi mengukur
kebenaran bukan hanya dilihat karena bis berhenti di posisi kiri, namun
penumpang bisa turun dengan selamat karena bis berhenti di posisi kiri.
Contoh lain, misal seseorang mengatakan pakailah payung agar tidak
basah. Tujuannya jelas agar ketika hujan kita bisa memakai payung tersebut agar
tubuh tidak basah. Dan terbukti ketika benar benar turu hujan maka payung
tersebut akan melindungi tubuh kita.
* Sumber : Berbagai Macam Referensi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar